More

    Tolak Geothermal, Ratusan Warga Padarincang Kembali Gelar Istigosah

    Must Read

    Duh! Sebanyak 101 Pengawas Pilkada Kabupaten Serang Reaktif Covid-19

    SERANG/POSPUBLIK.CO - Bawaslu Kabupaten Serang mencatat ada 101 Pengawas TPS (PTPS) yang tersebar di 29 kecamatan reaktif Covid-19 saat...

    Kota Serang Dikepung Banjir, Warga Diminta Waspada Banjir Susulan

    SERANG/POSPUBLIK.CO - Kota Serang kembali dikepung banjir setelah diguyur hujan sejak Rabu malam hingga kamis (3/12) pagi. Beberapa titik yang...

    APBD Kota Serang Tahun 2021 Defisit 75 Miliar

    SERANG/POSPUBLIK.CO - Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kota Serang tahun anggaran 2021 alami defisit sebesar Rp 75,5...

    SERANG/POSPUBLIK.CO – Ratusan Warga Padarincang, Kabupaten Serang kembali menggelar istigosah dan mimbar bebas terkait penolakan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) atau Megaproyek Geothermal.

    Penolakan warga terhadap pembangunan PLTPB itu sudah dilakukan sejak tahun 2018 lalu. Berbagai cara pun dilakukan, bahkan warga sempat melakukan aksi jalan kaki ke Kementerian Energi Sumber dan Daya Mineral (KESDM) di Jakarta. Namun, hingga kini pemerintah pusat belum mencabut izin perusahaan tersebut.

    Salah seorang warga Sopian mengungkapkan, aksi kali ini dilakukan karena warga sempat mendapat informasi bahwa perusahaan akan mengoperasionalkan kembali alat-alat berat. Sehingga warga bergerak cepat untuk menolak rencana tersebut.

    “Kami tetap konsisten menyatakan untuk kesekian kalinya tidak ada negosiasi apapun itu untuk proyek geothernal,” ucapnya kepada awak media saat dikonfirmasi pada senin (31/8/2020).

    Menurut Sopian, perjuangan warga yang sudah bertahun-tahun itu karena, melalui kajian secara akademis dan teoritis geothermal banyak mudharatnya. Hal iti disebabkan lokasi perusahaan tepat ada di kawasan perkampungan warga.

    Sopian menambahkan, masyarakat tidak akan memberikan ruang sedikitpun kepada perusahaan untuk meneruskan ke tahapan eksploitasi. Jika perusahaan tetap memaksa, maka jangan salahkan masyarakat akan menggunakan tindakan-tindakan lain agar perusahaan hengkang.

    “Pokoknya tolak geothermal, sudah harga mati bagi kami untuk menolak proyek geothermal,” terangnya.

    Sopian menegaskan, tanah yang jadi lokasi perusahaan merupakan warisan leluhur untuk tetap dijaga kelestariannya. Dengan begitu, warga akan terus gigih dalam memperjuangkan tanah kelahirannya itu.

    “Ini warisan leluhur apapun konsekuensinya kami harus menjaga alam agar tidak ada yang merusak,” tandas Sopian. (Moch)

    Baca juga

    - Advertisement -
    - Advertisement -

    Latest News

    Harga Gabah Petani di Banten Alami Penurunan

    SERANG/POSPUBLIK.CO - Badan Pusat Statistik (BPS) Banten mencatat rata-rata harga gabah di tingkat petani pada November 2020 mengalami penurunan. Penurunan...

    Waduh! Kapolsek Walantaka Dicopot Pasca Kerumunan pada Pertandingan Sepak Bola

    SERANG/POSPUBLIK.CO - Pasca adanya kerumunan pada pertandingan sepak bola di Kecamatan Walantaka pada Rabu (3/12) lalu, Kapolsek Walantaka AKP Kasmuri, di copot jabatannya dan...

    Pasca Diguyur Hujan Deras, Sejumlah Wilayah di Kota Serang Terendam Banjir

    SERANG/POSPUBLIK.CO - Setelah diguyur hujan deras semalaman, beberapa wilayah di Kota Serang terendam banjir, seperti di Komplek Citra Gading, Kampung Munjul Jaya, Kelurahan Karundang dan...

    Kota Serang Dikepung Banjir, Warga Diminta Waspada Banjir Susulan

    SERANG/POSPUBLIK.CO - Kota Serang kembali dikepung banjir setelah diguyur hujan sejak Rabu malam hingga kamis (3/12) pagi. Beberapa titik yang jadi langganan banjir diantaranya komplek...

    Banten Dinilai Darurat Kekerasan Perempuan

    SERANG/POSPUBLIK.CO - Hari Internasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan kerap diperingati setiap tanggal 25 November, namun kali ini berbeda lantaran dihadapkan dengan situasi pandemi corona,...
    - Advertisement -
    - Advertisement -